Jumat, 28 Maret 2014

Arab Saudi Menyesal Dukung Terorisme?

"Kalian semua Syiah," katanya mengancam. "Bukan, kami Sunni dari Homs (Suriah)," ujar salah seorang pengemudi dengan nada putus asa. "Semoga Allah memberimu kemenangan."
Cuplikan film bikinan Takfiri Negara Islam Irak dan Sham (ISIS)
Cuplikan film bikinan Takfiri Negara Islam Irak dan Sham (ISIS)

Oleh: Patrick Cockburn

Sebuah film berdurasi lima menit dibuat Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Film itu menayangkan adegan gerilyawan ISIS menghentikan tiga truk besar di jalan raya utama yang menghubungkan Suriah dan Irak. Lelaki kekar berjenggot dan bersenjata merebut KTP para pengemudi yang berdiri dengan gemetar di depannya.

"Kalian semua Syiah," katanya mengancam.

"Bukan, kami Sunni dari Homs (Suriah)," ujar salah seorang pengemudi dengan nada putus asa. "Semoga Allah memberimu kemenangan."

"Kami hanya ingin hidup," mohon pengemudi lain. "Kami di sini karena kami ingin mencari nafkah." Teroris ISIS itu lalu menguji mereka untuk mengetahui apakah mereka benar-benar Sunni. "Berapa kali Anda berlutut untuk shalat subuh?" tanyanya. Jawaban mereka bervariasi antara tiga dan lima.

"Apa yang dilakukan kaum Alawi terhadap martabat Suriah?" tanya lelaki bersenjata itu, yang pada tahap ini beberapa teroris lain ikut bergabung. "Mereka memperkosa wanita dan membunuh kaum Muslim. Dari pembicaraan kalian, [tampaknya] kalian musyrik." Ketiga pengemudi itu lalu digiring ke tepi jalan dan terdengar tembakan saat mereka dibunuh.

Cuplikan film buatan ISIS
http://www.islamtimes.org/images/docs/000364/n00364494-t.jpg

Oposisi bersenjata di Suriah dan Irak saat ini didominasi kawanan Salafi jihadi... [yang] berkomitmen untuk perang suci (menurut pemahaman picik mereka--red.). Mereka yang [begitu saja] membunuh pengemudi non-Sunni di jalan Damaskus-Baghdad menjadi contoh yang terlalu khas.

Pemerintah Barat mungkin tidak terlalu ambil pusing soal berapa banyak kaum Muslim Syiah yang terbunuh di Suriah, Irak, atau Pakistan. Namun [dengan kejadian itu] mereka dapat melihat gerakan takfiri dengan keyakinan yang sama dengan al-Qaeda Osama bin Laden, saat ini punya basis di Irak dan Suriah yang jauh lebih besar dari apa yang mereka nikmati di Afghanistan sebelum 9/11 saat mereka di bawah Taliban.

Pretensi bahwa Tentara Suriah Bebas yang sekular dan didukung Barat seharusnya memimpin pemberontakan untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad akhirnya menguap Desember lalu saat kawanan jihadis menyerbu depot suplai mereka dan membunuh komandan mereka.

Dalam enam bulan terakhir, sudah muncul tanda-tanda kemarahan nyata di Washington atas tindakan Arab Saudi dan monarki Wahhabi Teluk dalam penyediaan dan pembiayaan panglima perang jihad di Suriah yang sekarang begitu kuat. Menteri Luar Negeri AS John Kerry secara pribadi mengkritik Pangeran Bandar bin Sultan, kepala intelijen Saudi waktu itu sejak 2012 dan mantan duta besar Arab Saudi di Washington, yang mendalangi kampanye menggulingkan pemerintahan Assad.

Ia membalas dengan mencemooh Presiden Obama karena tidak melakukan intervensi militer di Suriah saat senjata kimia [milik dan ulah Bandar sendiri] digunakan terhadap warga sipil.

Bulan lalu, terungkap bahwa Pangeran Bandar, sambil masih menjabat kepala intelijen, tidak lagi bertanggung jawab terhadap kebijakan Saudi di Suriah. Ia digantikan menteri dalam negeri Mohammed bin Nayef, yang dekat dengan AS dan terutama dikenal karena kampanyenya melawan al-Qaeda di Semenanjung Arab.

Pangeran Miteb bin Abdullah, putra Raja Saudi Abdullah dan kepala Garda Nasional Saudi, juga berperan dalam merumuskan kebijakan baru Suriah. Perbedaan Arab Saudi dengan beberapa monarki Teluk lainnya menjadi lebih eksplisit, saat Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab menarik duta besar masing-masing dari Qatar bulan ini. Itu terutama lantaran dukungan Qatar pada Ikhwanul Muslimin di Mesir, namun juga pendanaan dan penyediaan kelompok jihadi yang lepas kendali di Suriah.

Tiga supir truk warga Suriah yang diberhentikan ISIS
http://www.islamtimes.org/images/docs/files/000364/nf00364494-1.jpg

Arab Saudi mengambil alih dari Qatar, peran sebagai penyandang dana utama dari pemberontak Suriah musim panas lalu. Namun keterlibatan Saudi jauh lebih mendalam dan berjangka panjang darinya, karena jihadis yang berasal dari Arab Saudi jumlahnya lebih banyak ketimbang dari negara lain.

Juru khotbah Saudi menyerukan dengan lantang untuk intervensi bersenjata terhadap Assad, baik oleh relawan individu atau negara. Keyakinan Wahhabisme, versi Arab Saudi yang literalis dan sok-puritan, tidak jauh beda dengan al-Qaeda atau kelompok jihad Salafi lainnya di Suriah, Irak, Afghanistan, Pakistan, Mesir, dan Libya.
----------------------------------------------

Pembesar Saudi secara ideologis selalu menentang Syiah [yang dipandang secara keliru] sebagai sesat, sebanyak pihak Katolik Roma di Eropa masa Reformasi yang begitu membenci dan berusaha mengenyahkan Protestan. Permusuhan ini kembali pada aliansi antara kaum Wahhabi dan Istana Saud yang berasal dari abad ke-18. Namun tahun kunci bagi pengembangan gerakan jihad sebagai pemain politik adalah 1979, dengan invasi Soviet di Afghanistan dan revolusi Islam Iran yang dipimpin Ayatullah Khomeini yang mengubah Iran menjadi negara religius Syiah.

ISIS membunuh tiga sopir Ahlu Sunnah warga Suriah
http://www.islamtimes.org/images/docs/files/000364/nf00364494-2.jpg

Selama 1980-an, sebuah aliansi lahir antara Arab Saudi, Pakistan (lebih tepat lagi, tentara Pakistan), dan AS yang telah terbukti luar biasa tahan lama. Ini telah menjadi salah satu pendukung utama dominasi AS di wilayah tersebut, namun juga menyediakan benih plot bagi gerakan jihad yang darinya al-Qaeda Osama Bin Laden pada awalnya hanya sebentuk tekanan.

Kejutan 9/11 menyediakan momen Pearl Harbour di AS saat kemuakan dan ketakutan publik dapat dimanipulasi untuk melaksanakan agenda neo-konservatif yang ada dengan menarget Saddam Hussein dan menginvasi Irak. Alasan untuk menyiksa tersangka al-Qaeda dimaksudkan untuk mendapatkan pengakuan tentang melibatkan Irak, bukan Arab Saudi.

Laporan Komisi 9/11 mengidentifikasi Arab Saudi sebagai sumber utama pembiayaan al-Qaeda. Namun enam tahun setelah serangan itu--pada puncak konflik militer AS vs al-Qaeda di Irak pada 2007--Stuart Levey, sekretaris kedua Menteri Keuangan AS yang bertanggung jawab untuk memantau dan menghambat pembiayaan teror, mengatakan pada ABC News bahwa, ketika menyinggung al-Qaeda, "Jika saya dapat menjentikkan jari dan memotong pendanaan dari satu negara, itu adalah Arab Saudi."

Ia menambahkan bahwa tak seorang pun yang diidentifikasi AS atau PBB sebagai pendana terorisme pernah dituntut oleh Arab Saudi.

Kendati demikian, frustrasi tingkat tinggi di Arab Saudi karena tidak [mau] bekerja sama, tak banyak berubah (lebih baik) beberapa tahun kemudian. Menlu AS Hillary Clinton menulis pada Desember 2009 dalam kabel yang Wikileaks, "Arab Saudi tetap menjadi basis dukungan penting keuangan al-Qaeda, Taliban, LeT [Lashkar-e-Taiba di Pakistan], dan kelompok teroris lainnya.

Ia mengeluh bahwa sejauh Arab Saudi melakukan tindakan melawan al-Qaeda, itu [tak lebih karena al-Qaeda dianggap] sebagai ancaman domestik dan tidak menentang kegiatan mereka di luar Arab Saudi.

Wakil Sekretaris AS untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan, David Cohen, pekan lalu memuji Arab Saudi atas kemajuannya dalam memberantas sumber pendanaan al-Qaeda di perbatasannya sendiri, namun mengatakan bahwa kelompok-kelompok jihadi lainnya dapat mengakses donor dalam kerajaan.

Arab Saudi tidak sendirian di antara monarki Teluk dalam mendukung jihad. Cohen mengatakan dengan masam bahwa "sekutu kita, Kuwait, telah menjadi pusat penggalangan dana bagi kelompok-kelompok teroris di Suriah." Ia mengeluh terutama terhadap penunjukan Nayef al-Ajmi sebagai Menteri Kehakiman maupun Menteri Wakaf Islam dan Urusan Islam. Ia mengatakan, "Al-Ajmi punya sejarah mempromosikan jihad di Suriah. Faktanya, fotonya tampil pada poster penggalangan dana untuk kalangan pendana Front Nusra yang menonjol."

Ia menambahkan bahwa Kementerian Wakaf baru-baru ini mengumumkan bahwa kini para penggalang dana dapat mengumpulkan sumbangan bagi rakyat Suriah di masjid Kuwait, membuka pintu lebar-lebar bagi penggalang dana jihad.

Titik selanjutnya yang datang dengan kuat dalam lalulintas bocoran diplomatik AS adalah sejauh mana Saudi memberikan prioritas untuk melawan Syiah. Berikut paranoia yang begitu mendalam: menggandeng Pakistan, sekutu Muslim terpenting Arab Saudi, di mana seorang diplomat senior Saudi mengatakan bahwa "kita bukan pengamat di Pakistan, kita pasrtisipan". Sebelum peristiwa 9/11, hanya Arab Saudi, Pakistan, dan Uni Emirat Arab (UAE) yang memberi pengakuan resmi terhadap Taliban sebagai pemerintah Afghanistan.

Muncul sesuatu yang histeris dan berlebihan tentang ketakutan Saudi terhadap ekspansionisme Syiah, karena Syiah hanya kuat di beberapa negara di mana mereka merupakan mayoritas atau minoritas yang kuat. Dari 57 negara Muslim, hanya empat negara yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah.

Namun demikian, Saudi sangat curiga terhadap Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan menjadi semakin jelas bahwa mereka lebih memilih kediktatoran militer di Pakistan. Alasan ketidak-sukaan itu adalah sektarianisme, yang menurut Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed kepada AS bahwa "Arab Saudi mencurigai Zardari sebagai Syiah. Ini menciptakan kekhawatiran Saudi terhadap segitiga Syiah di kawasan, antara Iran, pemerintah Maliki di Irak, dan Pakistan di bawah Zardari."

Permusuhan sektarian terhadap Syiah yang dipandang [secara picik] sesat dikombinasikan dengan ketakutan dan kebencian terhadap Iran. Raja Abdullah terus mendesak AS untuk menyerang Iran dan "memotong kepala ular". Pengaruh balik pengaruh mayoritas Syiah di Irak menjadi prioritas lain. Berikut adalah alasan lain mengapa begitu banyak warga Saudi bersimpati dengan aksi jihad di Irak melawan pemerintah.

Pengambilalihan Irak oleh pemerintah Syiah--yang pertama di dunia Arab sejak Saladin menggulingkan dinasti Fatimiyah di Mesir pada 1171--telah membunyikan alarm serius di Riyadh dan... lainnya, di mana pihak penguasa ingin membalikkan kekalahan bersejarah itu. Pemerintah Irak mendengar bunyi alarm itu pada 2009, saat seorang imam Saudi mengeluarkan fatwa yang menyerukan Syiah untuk dibunuh, sementara pemerintah Sunni di wilayah itu "bungkam secara mencurigakan" saat mereka harus mengutuk fatwa tersebut.

Pemberontakan Arab pada 2011 diperburuk sektarianisme, setidaknya di Arab Saudi yang selalu sangat sadar terhadap keberadaan minoritas Syiah di Provinsi Timur. Pada bulan Maret, 1500 tentara Saudi dikirim untuk menyokong keluarga kerajaan al-Khalifa di Bahrain saat mereka digilas protes pro-demokrasi oleh mayoritas Syiah di pulau itu, sifat terbuka sektarian dari tindakan keras digarisbawahi saat tempat ibadah Muslim Syiah dibuldozer.

Di Suriah, Saudi yakin bahwa pemerintah Suriah akan segera kewalahan seperti Muammar Gaddafi. Mereka meremehkan daya tahan dan dukungan yang diperoleh dari Rusia, Iran, dan Hizbullah Lebanon. Namun keterlibatan Saudi, bersama Qatar dan Turki, menghilangkan tekanan pada perubahan demokratis sekuler sebagai ideologi pemberontakan, yang kemudian berubah menjadi tuntutan kaum takfiri untuk berkuasa di mana kawanan salafi jihadi menjadi ujung tombak pemberontakan.

Mudah ditebak, kaum Alawi dan minoritas lainnya merasa tidak punya pilihan selain bertempur sampai mati. Banyak teori konspirasi tak masuk akal yang telah berevolusi, menjajakan gagasan bahwa pemerintah AS entah bagaimana terlibat dalam serangan 9/11. Teori sangat absurd ini telah mengalihkan perhatian dari fakta bahwa di satu sisi terdapat konspirasi, tapi itu cukup terbuka dan tak pernah menjadi rahasia.

Harga trio aliansi AS, Arab Saudi, dan Pakistan adalah gerakan jihad. Sejauh ini, itu adalah anti-Syiah sebelum menjadi anti-Barat. Namun, keberadaan sebagai kawanan ISIS bersenjata di jalan Damaskus-Baghdad menunjukkan, setiap orang non-Sunni berada dalam risiko.



Sumber : http://www.islamtimes.org/vdcco0q102bqe08.5fa2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar