Jumat, 28 Maret 2014

Israel Ciptakan Fasisme, Neo-Nazisme, & Anti-Yahudisme

Pimpinan unit tersebut mengataka, "Saya bukan anggota (Svoboda), tapi saya menerima perintah dari tim mereka. Mereka tahu saya warga 'Israel', Yahudi, dan eks tentara. Mereka memanggil saya 'kakak'. Apa yang dikatakan tentang Svoboda berlebihan... Saya tidak suka mereka karena tidak konsisten, bukan karena isu anti-Semitisme."
Boikot Israel (http://gallery.mailchimp.com)
Boikot Israel (http://gallery.mailchimp.com)

Rezim zionis "Israel" pimpinan Benyamin Netanyahu jelas-jelas mendukung kudeta kaum fasis yang menggulingkan presiden Ukraina terpilih pro-Rusia, Viktor Yanukovych. "Alih-alih menentang anti-Semitisme dan membela warga Yahudi Ukraina dari partai neo-Nazi dalam pemerintahan koalisi baru, 'Israel' malah mati-matian menyangkal ancaman itu," ungkap analis internasional, Jean Shaoul.

Pemerintah dan media "Israel", lanjutnya, menanggapi dengan menahan diri untuk mengomentari pertumbuhan kekuatan neo-Nazi dan anti-Semit di Ukraina serta peran penting keterlibatan mereka dalam kudeta yang didukung Barat. "Mereka meremehkan atau abai sama sekali terhadap fakta bahwa AS dan negara-negara Eropa selama berbulan-bulan membiayai dan bekerja dengan organisasi fasis, seperti partai Svoboda dan Sektor Kanan, untuk menjatuhkan Yanukovych," papar Shaoul.

Padahal, lanjutnya, jelas-jelas para pemimpin Svoboda berkali-kali membuat pernyataan publik yang bersifat anti-Semit. "Pasukan paramiliter Sektor Kanan juga mengenakan seragam ala SS Waffen Hitler dan emblem berbentuk swastika," imbuh Shaoul.

Kurang dari setahun lalu, lanjutnya, World Jewish Congress menyerukan pelarangan partai fasis Svoboda. Pasalnya, mereka acap menyerang komunitas Yahudi Ukraina yang jumlahnya sekitar 200 ribu jiwa, terutama di Kiev, serta menarget rumah-rumah ibadah.

Pada 22 Februari lalu, persis pada hari kudeta, rabbi Ukraina, Moshe Reuven Azman, mengimbau warga Yahudi Kiev untuk segera meninggalkan kota dan, jika mungkin, negara. "Ia juga menutup sekolah-sekolah Yahudi di Kiev karena ancaman kekerasan," papar Shaoul.

Pada 25 Februari, lanjutnya, demonstran yang menang "mengibarkan bendera bersimbol neo-Nazi" dan "membagi-bagikan edisi yang baru diterjemahkan dari Mein Kampf (karya Adolf Hitler) dan The Protokol of the Elders Zion di lapangan Maidan".

Pemimpin komunitas Yahudi Ukraina, kata Shaoul, sempat meminta bantuan rezim zionis melalui Menteri Luar Negeri "Israel" Lieberman, yang berasal dari Moldova. "Namun mereka tidak menanggapi permintaan itu maupun mengeluarkan pernyataan. Pada umumnya, 'Israel' justru meminimalisasi semua kekhawatiran itu," imbuhnya.

The Jerusalem Post, misalnya, menulis 24 Februari lalu bahwa "tak ada informasi bahwa warga Yahudi menjadi sasaran...." Ditambahkan bahwa tak ada "ancaman tertentu terhadap mereka." Pekan lalu, beberapa Yahudi terkemuka Ukraina mempublikasikan surat terbuka untuk Presiden Rusia Vladimir Putin, yang isinya, "... bahkan pasukan paling marjinal yang terlibat dalam revolusi tidak berani menunjukkan anti-Semitisme atau perilaku xenofobi lainnya." Mereka mendukung kedaulatan Ukraina "atas nama minoritas nasional dan komunitas Yahudi Ukraina".

Paling luar biasa, kata Shaoul, kunjungan Netanyahu ke Washington menyusul pertemuan duta besar "Israel" untuk Ukraina , Reuven Din El, dengan ketua Sektor Kanan Ukraina, Yarosh. Di samping itu, "Israel" dilsporkan terlibat dalam kerusuhan Ukraina.

Menurut Kantor Berita Yahudi (JTA), seorang mantan perwira militer "Israel" berperan utama dalam aksi protes, memimpin sekitar 40 gerilyawan Ukraina dan lima warga "Israel", yang dikenal dengan unit Helm Biru, di bawah arahan Svoboda. Begitu pula dengan keterlibatan empat veteran "Israel" lainnya, yang lahir di Ukraina lalu bermigrasi ke "Israel" dan berdinas di ketentaraan "Israel" sebelum pulang ke Ukraina.

Pimpinan unit tersebut mengataka, "Saya bukan anggota (Svoboda), tapi saya menerima perintah dari tim mereka. Mereka tahu saya warga 'Israel', Yahudi, dan eks tentara. Mereka memanggil saya 'kakak'. Apa yang dikatakan tentang Svoboda berlebihan... Saya tidak suka mereka karena tidak konsisten, bukan karena isu anti-Semitisme."

Desember lalu, kata Shaoul, The Jerusalem Post juga melaporkan bahwa "beberapa pemuda Yahudi yang bekerja untuk organisasi internasional seperti JDC, Hillel, dan Limmud telah membawa barikade [di Ukraina]" dan "benar-benar aktif dalam menawarkan dukungan juga mengorganisasikan barikade".

Negara Zionis yang memproklamirkan dirinya secara sepihak (karena mencaplok tanah Palestina) dan koar-koar sebagai pertahanan bagi kaum Yahudi dari anti-Yahudisme, lanjut Shaoul, justru sekarang untuk pertama kalinya sejak 1945 mendukung negara anti-Yahudi yang dikuasai partai yang terang-terangan pro-Nazi.

Respon "Israel" terhadap krisis Ukraina, lanjut Shaoul, memberi kesaksian pada fakta bahwa elit politik "Israel" berbicara bukan untuk Yahudi dunia, sebagaimana acap diklaim, melainkan untuk kelas kapitalis "Israel", lapisan sosial korup dan bejat yang melakukan serangan kriminal bersama Washington terhadap warga Palestina dan pihak lain.

"Sekitar 20 keluarga terkaya 'Israel' mengontrol sekitar setengah pasar saham dan 25 persen perusahaan besar, terutama surat kabar, bank, dan perusahaan teknologi tinggi. Beberapa darinya berasal dari Rusia dan mendiang Uni Soviet," terang Shaoul.

Kelas ini, katanya, telah lama bersekutu dengan kekuatan fasis di luar "Israel" untuk membela kepentingannya, terutama dengan gerakan Phalangis di Libanon selama perang sipil 1975-1989. "Baru-baru ini, mereka terbukti mendukung, melatih, dan bekerjasama dengan kalangan takfiri sayap kanan yang didanai Arab Saudi, Qatar, Turki, dan CIA dalam upaya menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad," tegasnya.

Rezim zionis sendiri, selain arogan, penindas, kolonial, dan agresif, juga memiliki karakter fasis. Perkembangan ini menunjukkan paradoks:

"Alih-alih membela orang-orang Yahudi dari penindasan dan anti-Yahudisme, negara Zionis itu justru terlibat dalam penindasan tersebut dan menciptakan kembali (fasisme, neo-Nazisme) anti-Yahudisme.


Sumber : http://www.islamtimes.org/vdcefe8xnjh8pfi.rabj.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar